Tampilkan postingan dengan label ULASAN FILM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ULASAN FILM. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 25

"TAO TENGGU DIBI’": GADO – GADO YANG TERPELESET DALAM MONOTONITAS

Komedi adalah sebuah lelucon yang seringkali mengolok-olokkan diri sendiri atau kenaifan orang lain. Ada kalanya komedi dengan melakukan kesalahan pengucapan atau keseleo lidah, sehingga membuat tertawa. Komedi dalam film lebih leluasa karena bias mengeksplor gerak dan sutuasi. Namun bukan hal mudah untuk bisa membuat sebuah film yang membuat penonton tertawa, karena bisa-bisa komedi alur komedi yang ditawarkan bisa ditebak penonton, sehingga tak lagi ada surprise dan terasa hambar.

Apa yang ditawarkan dalam film pendek “Tao Tenggu Dibi’” produksi Chem_Fact Production kelas X-8 memberikan kejutan dengan pengambilan gambar yang bagus dan jalan cerita yang runtut. Joe si tokoh yang kekanak-kanakan, sudah remaja tetapi kelakukannya seperti anak kecil – suatu gangguan mental, namun dia bersekolah di SMA pada umumnya. Tawaran-tawaran lelucon yang berlangsung antara tingkah Joe dengan ayahnya yang kadang bertindak konyol, dengan ide segar sembari ,enyerempet pada petuah-petuah tradisi lokal yang harus dipertahankan.

Cerita terus mengalir pada penemuan sebuah peta yang kemudian dilanjutkan dengan petualangan untuk melacaknya, dan menemukan harta karun. Namun di sini lagi ternyata peta yang ditelusuri merupakan tempat Joe bersemadi. Mereka kemudian bersama-sama tidak menemukan apa-apa. Namun dengan gembira kembali ke rumah. Sodoran cerita yang cukup menarik dengan impian-impian ala remaja yang khas. Namun tayangan ini agak terganggu saat menyodorkan tayangan dalam kelas yang tidak mungkin ditemukan realitasnya, sementara dari awal kisah dimulai amat dekat dengan realitas. Saat kreator ingin mengangkat potensi budaya lokal, secara frontal mengolok-olok guru dalam ruangan kelas, sementara dalam konteks budaya lokal guru merupakan salah satu tugas yang dimulyakan. Artinya jika ingin mengangkat budaya lokal, maka banyak peluang yang bisa dijadikan bahan lelucon, tidak harus guru seperti pada tayangan lelucon di televisi atau sinetron. Bukankah tayangan televisi banyak dikritik karena tidak mengandung unsur edukatif? Sayang memang!!!

Tetapi secara kreatif, banyak hal yang dapat diungkap dalam film ini. Judul film menggunakan bahasa Madura yang secara eksplisit menyerahkan kepada penonton untuk mencarfi sendiri makna yang disodorkan. Nyatanya memang tidak ada makna berarti dalam tayangan ini. Ini sebuah kreatifitas yang mengajak penonton untuk melepaskan beban, tanpa harus mengerutkan kening untuk memahaminya. Cuma, beberapa adegan saat melakukan penelusuran peta harta karun, para pemain bukan seperti melakukan petualangan yang mendebarkan. Ekspresinya lagak tengah berakreasi yang tanpa beban berat untuk menemukan letak peta yang tengah ditelusurinya.

Ayo terus berkarya, jangan pernah berhenti. Karya terbaik adalah yang belum kita buat, sehingga harus segera dibuat. Sebab, karya yang telah dibuat akan selalu ditemukan kekurangannya. Salam kreatif, sampai jumpa pada kesempatan yang lain. (Hidayat Raharja)

Minggu, Juni 22

“TARIAN DI UJUNG DERITA”; TRAGIKA HIDUP PENARI JALANAN

Kadang hidup tidak seperti yang dibayangkan. Banyak di sekitar kita yang kurang beruntung, sehingga mereka untuk makan hari ini, mencari nafkah hari itu juga. Sebuah kehidupan pahit dalam sebuah keluarga, seringkali membuat seorang anak mencari nafkah untuk biayai diri dan keluarganya. Kondisi keluarga yang banyak ditemukan pada mereka yang terbelit dalam kemiskinan. Kepapan inilah yang kadang membuat seseorang frustasi sehingga terjerat ke dalam arena judi dan mabok minuman keras untuk keluar dari permasalahan keluarga yang demikian getir dan menyakitkan.

Tarian di Ujung Derita (TdUD) film pendek yang disutradarai Mia Ayudis S. H kelas X-7 menawarkan salah satu sisi kehidupan remaja dengan tokoh Sri yang kurang beruntung karena berada dalam keluarga broken home. Ayahnya seorang pemabuk dan ibunya seorang buruh cuci. Untuk membiayai pendidikannya Sri harus mengamen dengan menari sepanjang jalan dari satu toko ke toko berikutnya untuk bisa membiayai hidupnya. Kisah ini amat menarik ketika Sri diusir ayahnya dari rumah, karena tidak mau memberikan uang hasil ngamen kepada ayahnya yang butuh untuk membeli minuman keras. Kehidupan beralih ketika Sri akhirnya hidup di kolong dengan dinding dan lantai kardus.
Percintaan, dan persaingan sesama teman cewek satu kelas. Sebuah bumbu cinta yang ghalib sering ditemui dalam sinetron TV. Namun nasib tragis menimpa Sri saat ngamen di pinggir jalan tertbrak sepeda motor. Sri akhirnya meninggal dunia.

Nilai-nilai yang cukup menarik dalam tayangan TdUD antara lain; pertama, perjuangan seorang anak untuk melanjutkan pendidikannya dengan ngamen – menari dari satu tempat lain. Sebuah perjuangan hidup yang menggambarkan kemandirian dan keberanian untuk menjalani hidup yang penuh tantangan dan jerat kemiskinan yang menyakitkan. Sehingga seringkali anak-anak tidak mampu secara ekonomi dipandang tidak berguna bagi orang lain. Betapa mulia Sri yang tidak mau merep[otkan orangtua untuk membiayai sekolahnya. Betapa tabahnya Sri saat dilecehkan oleh teman-temannya di kelas, ketika ditunjukkan foto Sri tengah ngamen di pertokoan.
Kedua, seringkali kemiskinan menjadi olok-olok bagi teman-teman kita, tanpa pernah belajar untuk menghargai perjuangan hidup dan menjalani hidup dengan tabah. Sri sosok yang cukup gigih berani hidup sendiri untuk melanjutkan cita-citanya. Sebuah gambaran bagi semua, masih banyak di antara teman-teman kita yang kurang mampu secara ekonomi, butuh kepedulian bersama.
Ketiga, bahwa ketetapan tuhan adalah adil, yaitu saat ayah Sri mengalami stroke setelah tahu Sri yang diusirnya dari rumah meninggal karena kecelakaan.

Disamping kelebihan-kelebihan yang disodorkan dalam TdUD, film ini terasa amat datar dan hal ini karena kurangnya riset yang dilakukan oleh tim keratif, pembuat skenario. Pertama, proses mutasi tak segampang yang digambarkan karena harus ada rekomendasi dari sekolah yang akan menerima dan keterangan dari sekolah yang akan melepasnya. Kedua, betapa gampangnya hidup Sri saat ngamen selalu saja yang di datangi memberikan uang. Pada hal, kenyataannya masih banyak yang membuang muka ketika didatangi pengamen. Mereka yang usil melakukan pelecehan, sehingga membutuhkan ketangguhan sendiri bagi pengamen tari di jalanan. Ketiga, Betapa musykil seseorang dari keluarga miskin yang kekurangan minggat ke kota menacri tempat kos yang agak bagus. Dan aklhirnya Sri hanya bisa hidup di kolong jembatan beralas dan berdinding kardus.

Namun yang sangat menggembirakan karya film TdUD; jalan penceritaan cukup menarik, untuk mengangkat perjuangan seorang siswi di tengah kemiskinan, menari untuk membiayai hidupnya. Aku yakin waktu kelak yang akan menentukan kreativitas kalian. Jangan pernah berhenti untuk berkarya. Jangan pernah berhenti untuk terus menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman. Kelak, kalian akan membuat yang lebih bagus lagi. Aku tunggu...!(Hidayat Raharja)

“JAKA APES”: LELUCON BURAM DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Dunia pendidikan merupakan sebuah dunia yang sangat menarik untuk disorot dan ditelaah oleh siapa pun. Bila seorang pengusahan memasuki, maka dunia bisnis akan bergerak di dalamnya. Jika para pendidik mengarung di dalamnya, maka idealisme sebuah lembaga pendidikan akan drencanakan dan diselenggarakan menurut prasyarat-prasyarat dan ketentuan bagaimana layaknya lembaga pendidikan diselenggarakan dan bisa memberdayakan orang-orang yang ada di dalamnya. Akan tetapi akan berbeda jika siswa yang ada di dalam lembaga pendidikan menyuarakan diri dan keinginannya.

Saat siswa berbicara mengenai pendidikan banyak pihak yang memandang sebelah mata terhadap apa yang diutarakannya. Siswa tidak pernah menemukan ruang yang bisa mendengar keluhan dan kebuntuannya. Lewat dunia gambar atau Film Pendek mereka mencoba berkspresi untuk mengungkapkan kegelisahan dan kreativitasnya. Ketika mereka menyuarakan dirinya sendiri dan lingkungannya, banyak hal yang menarik untuk disimak. Karena apa yang diutarakan dalam film yang mereka, tidak akan pernah terlepas dari realitas konkret yang dialaminya.

Jaka Apes” sebuah film pendek garapan siswa-siswi kelas X-6 yang memparodikan diri-sendiri dan dunia pendidikan. Apes! Inilah nasib yang dialami Jaka, dan teman-temannya. Jaka bisa saja gue, loe ato kita! Bagaimana Jaka yang miskin, katrok, memelintir diri untuk keluar dari nasib buruk yang membelit menjadi bahan tertawaan segar. Meski parodinya bukan merupakan hal baru, namun cukup memikat dan menarik untuk memasuki ke dalam relung-relung dibalik gambar gerak yang ditayangkan. Jaka membanyolkan diri lewat kemiskinan yang membelit untuk keluar dari kepahitan yang menguntitnya. Lelucon menertawakan diri-sendiri: terpeleset, sepatu tercebur kubangan, sampai nyuri sepatu yang “salah kelamin” sebelah sepatu laki-laki dan pasangannya luput pada sepatu wanita. Kegetiran yang menjadi bahan tertawaan. Rasa getir itu diperkuat dengan matinya ibu si Jaka, membuatnya kemudian ia hidup sebatang kara menjalani nasibnya.

Menikmati film pendek “Jaka Apes” produksi anak-anak X-6 ini amat menarik untuk disimak dibalik lelucon yang mampu menarik sudut mulut untuk terbuka, alias tertawa.Kreatifitas yang mampu mengolah sebuah lelucon menjadi sebuah kritik segar tanpa harus menyakiti. Tidak dapat dipungkiri bahwa kelas yang tampil dalam cerita adalah rekaan. Namun, harus dipahami bahwa realitas dalam fiksi (film) tidak pernah terlepas atau steril dari realitas sesungguhnya. Realitas film (fiksi) selalu berhubungan dengan pengalaman yang pernah dicecap dan dirasakan oleh kreator, sebagai penggagas cerita. Film ini tidak sepenuhnya terlepas dari kehidupan belajar siswa.

Pertama,betapa anak-anak sekolahan sudah sangat terbiasa dengan aktivitas contekan atau melakukan kecurangan pada saat ulangan untuk mendapatan nilai yang baik. Mereka melakukan tanpa ekspresi rasa bersalah dan semua berlangsung dengan sangat datar dan tenang. Sebuah gambaran hilangnya idealisme di dalam diri anak-anak kita. Sebuah kehilangan karena, sudah sulit menemukan ketauladanan dalam dunia persekolahan. Atau karena tidak ada aturan dan etika yang jelas terhadap segala sesuatu yang ada dalam sekolahan.

Kedua, guru sebagai pendidik sepertinya telah kehilangan spirit dan energi sebagai pendidik, kecuali sebagai tenaga pengajar yang mentransformasikan materi (keilmuan) dan memberikan nilai sebatas yang terukur di atas kertas. Dalam “Jaka Apes” hukuman fisik yang diberikan guru tidak mampu mengubah perilaku anak dan masih mengulangi kembali kesalahannya di belakang guru. Hukuman tak mampu mengubah perilaku. Kenapa? Karena guru dalam “Jaka Apes” tidak mencari latar belakang siswa melakukan pelanggaran, nyontek dan ngerpek saat ulangan berlangsung. Jaka Apes dan Csnya, melakukan kecurangan karena ada kesempatan untuk melakukannya, di saat Guru menerima panggilan Handphone keluar dari dalam ruangan kelas. Haaa...haaa.. bu guru Jaka Apes, barangkali tergolong kepada orang-orang berduit yang mampu membeli teknologi tetapi tidak memahami etika dan filosofinya. Apes memang, hahahaaaaaa.....!

Satu sudut kecil diteropong “Jaka Apes” merupakan sebuah umpan-balik (feedback) bagi dunia pendidikan wakhususan dunia persekolahan. Perhatian untuk arif dan bijak dalam memahami siswa-siswinya. Serta keteladanan yang baik para pendidik dan pembina untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dan benar.

Di negara-negara maju, tidak dibenarkan menggunakan pesawat handphone dalam ruang formal: sidang, seminar, pembelajaran, dan semacamnya. Semua handphone harus dalam keadaan off, keculai boleh on tapi mematikan nada dering, sehingga ketika ada panggilan tidak menimbulkan bunyi yang mengganggu orang lain. Nah, disinilah barangkali pentingnya etika dan tatanan aturan yang jelas.

***

Film “Jaka Apes” sedikit lebih maju bila dilihat pengambilan adegan dalam kamera, dan proporsional. Kritik-kritiknya lewat banyolan, tajam namun tidak menyakitkan. Selamat buat anak-anak X-6. Terus berkarya. Jangan lupa belajar, karena karya tanpa dilatari kekampuan intelektual yang bagus hanya akan terombang-ambing di kulit permukaan. Takkan pernah menemukan dalamnya keindahan dan makna kehidupan. Good Luck! (Hidayat Raharja)

Rabu, Juni 18

KULTUR URBAN; "SLAMET IN THE MOVIE"

Budaya urban sebuah konsekuensi dari persilangan antara budaya lokal dengan budaya asing yang diboncengi kapitalisme dengan ajaran gaya hidup konsumtif bagi setiap penganut yang terseret ke dalamnya. Kota kecil tak jauh beda dengan kota metropolis, karena warna metropolis banyak ditemui juga di kota kecil. Keberadaan desa tak jauh berbeda dengan kota, karena desa juga telah diinvasi oleh jaring-jaring budaya kapital lewat kejelian media teknologi audiovisual yang demikian gampang dan mudah didapatkan sampai ke pelosok desa..

Hadirnya televisi, VCD/DVD telah memberikan sumbangan besar bagi kehidupan dan perubahan gaya hidup masyarakat dunia ketiga. Lewat televisi khotbah kehidupan selalu bergema sepanjang waktu memasuki ruang keluarga. Bagaimana televisi telah mengajari kita untuk yakin bahwa gemuk tak cantik, bahwa kurus seksi. Bagaimana pula kehadiran stasiun televisi mengkhususkan dirinya menyajikan musik sebagai tayangan yang disodorkan bagi dunia anak muda. House Music, Dance Music yang menghentak-hentak memasuki dinamika kehidupan kaum muda. Bahkan sejak beberapa tahun yang lalu salah satu stasiun televisi – Global TV – membikin acara live sebuah kompetisi dance yang dilangsungkan di berbagai kota untuk menyeleksi para pemenangnya memperebutkan hadiah tertentu. Ajang pertarungan yang sangat kompetitif dilakukan secara sportif.

Inilah salah satu kultur anak muda yang coba digarap oleh anak-anak nongkrong X-2 dalam “Slamet In The Movie” (SITM) dengan sutradara Januarsyah Zulfikar. Persoalan anak muda yang amat sensitif terhadap datangnya budaya baru. Bagaimana seorang Slamet yang “Katrok” memasuki kehidupan baru sebagai anak kota, dan kemudian terpengaruh untuk belajar dance seperti yang dilakukan teman-temannya. Ke-katrok-an yang dipertegas dengan kostum dengan songkok dipasang menyamping dan wajah yang lugu. Sebuah gambaran yang memudahkan penonton untuk memasuki alur certa yang akan dipaparkan.

Ada dua hal yang dapat dibaca saat menyaksikan film pendek “ Slamet In The Movie”, pertama dance sebagai bahasa pergaulan mereka di antara kesesakan dan kesuntukan pelajaran di sekolah. Dance sebagai ikon kaum muda yang dinamis, penuh gelegak dan gelora. Sebuah peradaban kaum muda yang begitu fleksibel menerima perubahan. Kultur yang telah mengubah pola hubungan antar sesama. Bagaimana persilangan bahasa Madura yang penuh tatanan masuk dalam gerakan tubuh yang dinamis dan ekspresif. Representasi dari cara mereka berkomunikasi dan berpakaian sebagai sebuah cermin kondisi hidup kekinian. Kehidupan yang demikian terbuka dan kompetitif, dan bahkan cenderung anarkhis.
Kedua, tayangan sebuah keadaan bagaimana pengaruh kultur urban terhadap pola hubungan antara guru dan murid atau juga sesama mereka . Bagaimana sebuah ironi ditayangkan saat ulangan remidi, guru yang tertidur di dalam kelas ditinggalkan muridnya. Apakah guru tertidur karena malam harinya banyak obyekan atau karena sudah tak peduli lagi terhadap penilaian yang dilakukannya. Artinya guru sudah memberikan nilai tidak lagi obyektif, karena hasil ulangan tak lagi menjadi pertimbangan dalam pemberian nilai. Bagaimana pula realitas kelas yang disodorkan, saat ujian siswanya kompak saling bekerja sama, saling mencontek.. Sebuah goresan tebal – kalau tak menyakitkan terhadap budaya lokal yang menjunjung tinggi harkat guru. Bapa’, Babu’ , Guru, Rato strata kepatuhan bagi masyarakat Madura. Guru menempati posisi sebagai pengganti orangtua. Betapa bangga anak-anak kita memperolokkan guru dalam sebuah parodi karikatural, sebagai obyek lelucon seperti yang banyak diajarkan dalam sinetron-sinetron dalam televisi kita. Betapa televisi telah sukses memasuki pikiran kaum muda untuk membangun sebuah pemahaman baru tentang dunia pendidikan.

Munculnya tayangan cerita semacam ini, bisa menjadi sebuah permenungan bagaimana perubahan pemikiran dan pemahaman bergerak dalam pikiran kaum muda. Bahwa tradisi yang menghamparkan kearifan-kearifan lokal, ada yang tergerus oleh gelombang perubahan budaya asing yang menghantam dan mengoyak budaya setempat. Hal ini bukan untuk disesali tetapi perlu diarifi bersama, bagaimana mengangkat hal-hal yang memang baik untuk bisa dihidupkan kembali dan hal-hal yang buruk untuk ditingggalkan.

Tapi hal lain yang cukup menarik dalam tayangan SITM, sosok Slamet yang lugu namun juga konyol mengingatkan kepasda sosok si Kabayan. Kekonyolan yang menyebabkan dia harus pulang ke kampung karena ayam peliharaannya mati. Secara visual SITM tak jauh berbeda dengan Football Street. Cuma para aktor SITM sangat kaku dalam memainkan gerakan dance yang dinamis. Barangkali inilah yang harus diperhatikan oleh para pemain bahwa film adalah sebuah realitas rekaan dalam gambar. Artinya bahwa, ketika kita memainkan peran penari harus mampu dan betul-betul menguasai tari yang kita mainkan. Selamat Belajar , jangan banyak – banyak remedi. Good Luck! (Hidayat Raharja)

Selasa, Juni 17

FOOTBALL STREET:Hibrida Bahasa Lokal dalam Visualisasi Ikon Global

Seorang remaja tengah berdiri di tepi jalan yang sepi, tiba-tiba dari arah samping mendekat seorang loper bersepeda membawa Koran. Salah satu korannya jatuh tanpa diketahui si loper. Anak muda itu memberitahukan bahwa korannya jatuh. Loper Koran meletakkan sepeda mengambil koran yang terjatuh. Saat itulah anak lelaki itu membawa lari sepeda, jauh memasuki liku lorong-lorong perkampungan sampai kemudian terjatuh ke selokan.

Adegan pembuka film pendek Football Street garapan kelas X-1 SMA Negeri 1 Sumenep dengan sutradara Bastomi. Selanjutnya membawa penonton pada persoalan-persoalan kekerasan, pertemanan, ngeband dan ngebola di jalanan. Garapan yang cukup menarik untuk disimak dan dinikmati. Sebuah gambaran kehidupan anak muda; kekerasan di jalanan, musik (band), dan sepakbola. Identitas kekinian di saat jalanan bukan lagi lalulintas angkutan atau kendara, namun juga lalulintas persoalan bagi kaum muda. Bagi kaum muda jalanan adakalanya merupakan ruang lain untuk melampiaskan kecemasan, mencari identitas diri dalam solidaritas gang (baca; kelompok) sekaligus menggantungkan cita-cita di antara rasa putus asa.

******

Musik menjadi bahasa ucap mereka untuk mengungkapkan kecemasan, juga cinta. Bahasa musikal, bahasa yang mampu mewakili berbagai persoalan dan perasaan. Ikon hidup kekinian, ketika musik menjadi salah satu daya tarik untuk menangguk popularitas . Bahkan musik memberikan jalan pintas untuk meraih popularitas semu dari berbagai kontes dan audisi dengan polling sms dari pemirsa. Pemanang kontes dan popularitas akal-akalan karena untuk mendapatkan sms yang banyak peserta audisi atau kontestan diperbolehkan mengirim sms untuk mendukung dirinya sendiri. Namun jalan pintas itu telah banyak menjerumuskannya dalam belitan nasib yang terpuruk.

Lain lagi dengan sepakbola. Keberuntungan para penendang bola di lapangan hijau yang sukses dan berhasil hidup dari tendangan bola ke gawang lawan. Berjuta-juta umat manusia menjadi penganut “sepakbola” sebagai “ agama baru” yang mampu melepaskan identitas kebangsaan agama, usia, dan jenis kelamin.

Dalam perkembangan teknologi informasi, sepakbola menjadi dagangan mahal yang diperebutkan antar stasiun televisi untuk mendapat hak siar. Biaya mahal, karena ingin mendapatkan banyak tayangan iklan yang berarti masuknya keuntungan yang sebesar-besarnya bagi stasiun yang menyiarkannya.

***

Hibrida; persilangan antara dua sifat berbeda sesuai dengan yang diinginkan. Persilangan antar budaya hadir secara gamblang dan terbuka di era pascamodern. Persilangan antar bahasa atau budaya lokal yang lugas dengan bahasa asing “Football Street” tanpa rasa canggung. Sebuah cermin sosial anak muda yang begitu elastis, kenyal memasuki kultur asing dan meleburnya dengan kultur lokal, merasuk ke dalam diri. Tak ada yang gagap, semua serba memungkinkan, berlangsung apa danya.

Lokalitas bahasa yang mengungkapkan persoalan kontemporer atau kekinian, ketika lokalitas itu setara dengan yang asing atau yang lainnya. Melebur dan membaur sebagai persaoalan bersama; persoalan anak-anak muda. Idiom musik sebagai ikon budaya anak muda, dan sepakbola sebagai sesuatu yang bukan lagi milik sebuah perseoranga, kelompoik atau kebangsaan, tetapi telah menjadi milik masyarakat dunia. Ikon budaya global, namun diungkap dengan bahasa lokal, sebagai identitas di tengah terdesaknya bahasa lokal (Madura) oleh gempuran dan gempitanya bahasa, budaya asing yang menginvasi lewat berbagai media. Invasi yang demikian gencar sampai memasuki ke pakaian dalam yang paling rahasia.

Suatu kreatifitas anak-anak muda, menyilangkan sesuatu yang asing dengan konten bahasa lokal, lewat idiom musik dan sepakbola, membicarakan persoalannya. Namun kelemahan film pendek garapan Bastomi ini visualisai potongan gambar belum terbangun secara utuh sehingga terasa ada bagian yang terputus, kagak nyambung. Kelemahan ini sangat kentara karena, pada ending cerita ditutup oleh teks demikian panjang untuk menjelaskan jalan cerita yang kabur. Good Luck! Sukses buat X-1. Peace......!(Hidayat Raharja)