Tampilkan postingan dengan label CATATAN KECIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN KECIL. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 24

DARI PERSOALAN KESEHARIAN SAMPAI PERSOALAN DI LUAR JANGKAUAN

CATATAN KECIL DARI RESITAL 3 TAHUN 2008
DARI PERSOALAN KESEHARIAN SAMPAI PERSOALAN DI LUAR JANGKAUAN

Tujuh flim pendek telah ditayangkan dalam acara resital 3 smansa tahun 2008. Film-film yang banyak berbicara mengenai kaum muda dengan kesehariannya. Persoalan-persoaln yang paling dekat samppai pada persoalan-persoalan di luar akal sehat. Cukup menarik ide-ide yang ditawarkan, namun kadang ide baik tersebut terbelenggu oleh waktu yang disediakan demikian pendek, sehingga umumnya banyak muncul gambar minim dialog, laksana sebuah film musikal cerita dituntun oleh lagu musik yang melatari. Secara kreatif, mereka sudah mampu menyiasati keterbatsan fasilitas, walau kadang cerita yang dipaparkan amat datar, dan penuh guyonan menertawakan diri sendiri atau orang lain.

Dari apa yang saya saksikan selama sepekan resital smansa, ada beberapa catatan yang cukup menarik untuk diutarakan;
Pertama, penggalian nilai-nilai budaya lokal amat bagus, karena dapat menjadi jalan sebuah revitalisasi ditengah gempuran budaya global. Dalam mengangkat budaya lokal diperlukan sikap kritis sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap perubahan. Artinya tidak semua budaya lokal harus dipertahankan, karena sudah tak memberikan lagi pada kontribusi pada hidup kekinian, tidak ada salahnya meninggalkan tradisi lokal, sebagai dinamika peradaban yang lebih kondusif.
Kedua, parodi dunia pendidikan, beberapa tayangan mengambil latar belakang yang sama, suasana kelas dan guru sebagai obyek lelucon, dan bahkan dengan keterlaluan ada adegan guru yang dielus-elus, pundaknya karena guru tertidur di kelas pada saat ulangan membuat sussana kelas jadi gaduh. Atau guru yang ditinggalkan muridnya di dalam kelas dan dijadikan bahan olok-olok murid-muridnya tanpa rasa bersalah.
Ketiga, mengangkat budaya lokal dlam aneka persoalannya tidak bisa sekedar membayangkan dan menurut persepsi pribadi tetapi perlu dilatari olehs ebuah riset yang memadai sehingga apa yang kita buat bisa memberikan nilai positif bagi perkembangan kebudayaan.
Keempat, persilangan budaya lokal dengan budaya asing seperti penggunaan bahasa lokal dalam dialog dan judul film mempergunakan bahasa Inggris. Sebuah penanda bahwa anak-anak muda smansa tak canggung lagi untuk mempergunakan bahasa asing dan meleburnya dengan bahasa lokal. Menegaskan bahwa globalisasi telah mampu menjebol batas-batas wilayah, negara, ras, agama, dan kebangsaaan.

Namun begitu saya merasa bangga dengan keberanian anak-anak muda smansa untuk berbuat dan membuat sebuah cerita dalam film, sebuah fiksi yang sebenarnya juga tidak steril terhadap realitas. Artinya bagi kita semua sebuah film dapat merupakan gambaran dari dunia nyata yang diolah ke dalam fiksi. Sehingga sepedas apa pun kritik yang disodorkan, adalah sebuah keinginan untuk melakukan perubahan. Namun, yang perlu juga diperhatikan pada saat kita menyalahkan orang lain, maka sebenarnya diri kita harus lebih hati-hati untuk tidak melakukan kesalahan. Pada saat kita mengolok-olok orang lain lebih bijaksana kalau kita mengolok-olok diri kita sendiri. Karena diri kita dapat menjadi cerminan orang lain. Juga orang lain yang kita olok-olok bisa-bisa itu mengenai diri kita sendiri. (Hidayat Raharja)

Senin, Juni 16

POTRET DUNIA PENDIDIKAN DAN LINGKUNGAN DI MATA ANAK-ANAK SMANSA

Tidak pernah terduga. Menakjubkan. Kata itu yang pantas diucapkan manakala menykasikan karya photoshop anak-anak SMA Negeri 1 Sumenep. Dengan keterbatasan pengetahuan mengenai photo shop mereka mencoba mengolah gambar untuk memvisualisasikan ide dan gagasan terhadap persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya. Menariknya, apa yang dipotret oleh mereka merupakan persoalan-persoalan aktual, dan faktual. Persoalan mengenai lingkungan akibat pemanasan global yang mempengaruhi terhadap perubahan iklim di atmosfer bumi. Dengan bahasa gambar beberapa karya mereka mencoba mengingatkan semua mengenai ancaman pemanasan global yang dampaknya saat ini telah dirasakan. Sehingga apa yang mereka visualkan adalah sebuah upaya untuk mengingatkan semua menjaga kelestarian atmosfer bumi.

Persoalan menarik lainnya mengenai potret pendidikan, masuknya dunia kapitalisme dalam sistem pendidikan dengan bahasa visual yang sederhana. Mereka mengungkapkan persoalannya sendiri. Besarnya biaya pendidikan kadang tidak setimpal dengan mutu yang diperoleh. Serta gelar kesarjanaan yang begitu mudah diperoleh dengan sejumlah uang tertentu. Begitu gampangnya bagi mereka untuk memperoleh gelar, namun secara parodi mereka mengungkapkan betapa sulitnya mencari ilmu. Secara karikatif mereka memvisualkan monyet berkaca mata membaca sebuah buku.


Betapa banyak gagasan dan pemikiran anak-anak muda dengan kreatifitasnya mereka mengajak kita bersma untuk merenungi kehidupan yang kian instan. Beban pendidikan yang demikian berat, karena hampir setiap kegiatan pendidikan di Indoensia tidak dapat dilepaskan dari persoalan pendanaan. Beratnya beban belajar yang dipikul oleh siswa divisualisasikan dengan seorang anak di atas kepalanya ditumpuki susunan buku tebal sehingga anak itu terduduk saking beratnya beban yang ditanggungkan. Di sisinya lembaran uang melatar belakanginya., menegaskan beban biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pendidikan. Sebuah gambaran betapa mereka telah berbicara mengenai sistem yang mengenainya, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa kecuali dengan mengungkapkan secara visul lewat karya kreatif photo shop.

Sketsa-sketsa yang ditampilkan oleh siswa kelas XI IPA, amat menarik untuk disimak mereka menampilkan kondisi lingkungan terdekat yang menginginkan kenyamanan dan keteduhan. Cukup menarik tarikan garis spontan yang dilakukan para calon pelukis sketsa
Mereka ada yang menggoreskan detail ruang, dimensi bangunan, dan menangkap obyek dari arah tanah ke angkasa. Sebuah spontanitas yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Bahwa mereka memiliki potensi untuk mengembangkan diri dalam kemampuan menangkap obyek dan dituangkannnya ke dalam, sebuah sketsa. Spontanitas dan kejujuran yang terbaca dari goresan garis yang bergerak dari tatapan mata dan redaman perasaan mereka.

Jumat, Juni 13

RESITAL ; MAHLUK APAKAH ITU ?!

Tiga tahun yang lalu, saat gerimis ikut andil menjaga lingkungan kita agar bisa tumbuh tunas-tunas muda diantara reranting-reranting tua yang hampir patah. Saya bertemu dengan teman karib saya yang memang mumpuni disegala lini kehidupan lapangan kreativitas, ya bisa dikatakan dia penjaga gawang yang handal. Kepulan asap tak lagi keluar dari bibirnya karena tubuhnya pernah dihunjam aliran air infuse. Dia, Dayat Raharja dan mulai perbincangan dengan saya, tentang bagaimana membuat sesuatu agar semua terasa menggeliat. Dia pun batuk-batuk karena kepulan asap Marlboro yang sempat ia hirup dari cerobong muka saya. “Karya dong, dan harus berkarya”, hanya itu yang sampai sekarang menyelimuti otak saya. Maka, lahirlah mahluk yang bernama “keberanian tuk berkarya”. Cercaan, kepulan kecurigaan, konflik imajiner ikut andil dalam mengembangkan kelahiran mahluk yang bernama resital. Makhluk yang tengah menggeliat menuju proses pendewasaan.Dua puluh empat film, 16 judul video klip, 5 karya pagelaran teater, satu karya pawai topeng dan puluhan karya poster sudah lepas dari busurnya dan mahluk itu sudah melahirkan sutradara-sutradara muda, aktor dan aktris amatir serta perupa-perupa yang selalu kangen pada acara resital. Sebentar lagi tepatnya tanggal 17 sampai 24 Juni mahluk yang penuh gagasan itu menggebyar penayangan Film Pelajar Video klip (judul film : Street FootballSlamet in the MovieTrio TSongennep CiltureJaka ApesTarian Diujung DeritaTao Tengngu Dibi’) , pameran poster dan pamlet, pameran mading 3 dimensi, pementasan teater 100 topeng, pemutaran iklan dan juga tempat nongkrong cafĂ© K@TES. Saya jadi berkhayal kepada sosok teman karib saya, dengan senyumnya bisa merontokkan kegersangan imajinasi, tanpa kepulasan asap dari mulutnya pun masih tersungging senyuman. Entah apa makna senyum itu apakah karena ingat akan infus yang pernah menjalar dipembuluh darahnya atau karena melihat siswa-siswa di SMA 1 yang kian liar kreativitasnya membidik persoalan-persoalan di lingkungannya. Entahlah hahaha……..(mahluk apa ini ?!) (by. Agus teater)