Senin, September 22

Skenario Film Indie "SENYUM ITU IBADAH"

udul : Seyum itu Ibadah

Format : Film Indie

Durasi : 2 menit

Penulis Skenario : Ardhik, Mia, Tita, Dimas

Sinopsis

Pada suatu hari, hiduplah seorang anak yang baru saja kehilangan ibunya. Dia berjalan dengan wajah yang letih dan tidak ada semangat. Dia berjalan terus hingga ia melihat pekarangan kemudian terhenti karena teringat ibunya.

Setelah sadar dari lamunannya, sikap anak itu berubah menjadi ceria karena teringat pesan ibunya. Diapun melanjutkan perjalanan dan dia tersenyum saat bertemu orang (menyapa).

SKENARIO

ADEGAN I

EXT. Siang, di Jalan

Scene 1 : ZO samping (tracking object)

Ali berjalan tanpa semangat (pandangan kosong), melewati orang-orang (menyapa Ali).

Scene 2 : MS samping (tracking obejct)

Orang menyapa Ali tapi Ali tidak menanggapinya (tetap berwajah sedih dengan pandangan kosong)

Scene 3 : MCU

Ali menoleh ke pekarangan dengan wajah yang sedih dan teringat pada ibunya.

ADEGAN II

EXT. Siang, Pekarangan

Scene 1 : ZO

Ali sedang bercengkrama dengan ibunya disaat sedang menjemur pakaian (Ali begitu manja).

Scene 2 : ZI

Ali menumpahkan pakaian yang ada di ember.

Scene 3 : Knee Shot

Ibu tersenyum

Scene 4 : ZO

Ibu menghampiri Ali. Mengelus-ngelus kepala Ali dan menasehatinya.

ADEGAN III

EXT. Siang, Pekarangan

Scene 1 : CU

Mata Ali meneteskan air mata, sambil tersenyum manis teringat ibunya.

ADEGAN IV : ZI

INT. Kamar

Scene 1 : Samping, ZI

Ali berdiri di samping ibunya yang sedang sekarat. Ibunya memberi nasehat.

ADEGAN V

EXT. Siang, Pekarangan, di Jalan

Scene 1 : MCU

Ali tersadar dari lamunannya.

Scene 2 : samping, TI

Ali berjalan dengan senyum di wajahnya.

Scene 3 : samping, ZO

Ali bepapasan dengan orang, ali menyapa dengan senyum.

Scene 4 : depan, tracking object

Ali berjalan dengan senyumannya.

Hilang Dari Peredaran Waktu

Tema : Budaya permainan anak.

Oleh : Fauzan, Faris, Aditya

Durasi : 1 menit.

Sinopsis :


Adegan 1 : Jalan di desa.

EXT, pagi hari.

Scene 1 : (Fade Out) Didin berlari. (Cut)

Scene : (Fade In, close up) wajah ceria didin yang sedang berlari. (Cut)

Scene 3 : (Medium Close Up, kamera dari samping) didin berhenti di depan rumah temannya yang bernama Sisil sambil berteriak. “Woiiiiii Sisil” (Cut)

Scene 4 : (Fade In) Sisil dan teman-temannya keluar dari rumahnya untuk menemui didin. (Cut)

Scene 5 : (Medium Shot) “Hei amaen keccak yuk” (Cut)

Scene 6 : (Medium Close Up) “Puh ella din, amaen e diya bhei”, kata inong.

“Sisil gi’buru emelleyagi komputer ya” kata teman yang laen. (Cut)

Scene 7 : (Close Up) Wajah didin yang berubah menjadi sedih sambil berkata “Dina ra enjak engko’ molea bhei”. ( Cut)

Scene 8 : (Fade In, Close Up) Didin berjalan dengan wajah kecewanya. (Cut)

Adegan 2 : Tempat arena bermain.

EXT. Pagi hari.

Scene 1 : (Knee Shot) Didin sampai di tempat arena permainan dengan wajah lesu. (Cut)

Scene 2 : (Medium Shot, Full Shot) Didin duduk di sebuah tempat sambil menerawang, kemudian didin berdiri dengan wajah kesal dan menghapus “garis permainan keccak” (Cut)


Adegan 3 : Flash Back, Arena permainan.

EXT, Pagi Hari.

Scene 1 : (Extrem Close Up, Full Shot) Teman Didin yang sedang melempar batu genting ke arena permainan keccak. (Cut).

Scene 2 : (Zoom In) Batu yang menggelinding ke arena permainan keccak. (Cut)

Scene 3 : (Close Up) Kaki Didin yang menghapus arena permainan keccak. (Cut)

Scene 4 : (Close Up) Langkah kaki Sisil yang sedang bermain keccak. (Cut).

Scene 5 : (Full Shot) Didin menendang batu merah yang ada di depannya. (Cut)

Scene 6 : (Group Shot) Teman-teman Didin yang sedang tertawa dan senang. (Cut).

scene 7 : (Zoom In) Didin pulang. (Cut)

Adegan 4 : Arena permainan keccak.

EXT. Sore hari.

Scene 1 : (Medium Close Up) Didin dengan wajah lesunya datang ke arena permainan keccak. (Cut)

Scene 2 : (Zoom In) Arena keccak yang ada kembali. (Cut)

Scene 3 : (Close Up) Wajah Didin yang kaget, melihat arena keccak yang kembali ada. (Cut)

Scene 4 : Kembali ke Adegan 2 scene 3. (Cut)

Scene 5 : (In Frame) Teman-teman sepermainan Didin datang menghampiri Didin. (Cut)

Scene 6 : (Close Up) Wajah kaget Didin melihat teman-temannya yang datang. (Cut)

Scene 7 : (Medium Close Up) “Didin,,,,,,,, amaen yuk” (Cut)

Scene 8 : (Close Up) Raut wajah Didin berubah menjadi ceria. (Cut)

Scene 9 : (Medium Shot) Didin dan teman-temannya kembali bermain keccak bersama dan penuh canda tawa. (Cut)

Scene 10 : (Extreme Long Shot) Matahari senja. (Cut)

^_^ SELESAI ^_^

NB : Saat permainan keccak ditambah anak-anak bermain…………………............. …………………………………………………………………………………..……………………………………..………………………………………………………………………………….………………………………………….

skenario film indie "GEROBAK"

Tema : Pendidikan
Format : Film Indie
Durasi : 16 menit
Penulis Skenario : Agus Suharjoko, Vebrio, Ayu, Kiky Amelia.



ADEGAN 1 : Gerobak Di Depan DPR

EXT. Sore

Scene 1 : ( extreme close up )

Gerobak dengan tempelan tulisan “Wajib Belajar 9 Tahun”

Scene 2 : ( zoom out )

Gerobak secara keseluruha dengan bendera merah putih di belakang gerobak tersebut. ( CUT ).

Scene 3 : ( out frame, zoom in )

Gerobak berjalan keluar dari layer kamera. Dan terlihat latar belakang papan nama DPR. ( CUT ).

Narasi Gambar : “ Yang Menyelamatkan Hidup Kita Hanya Diri Kita Sendiri Dik, Bukan Orang Lain”

ADEGAN 2 : Di Bukit Yang Tenang Mereka Berdua

EXT. Senja

Scene 1 : ( medium longshoot )

Addoel duduk di bebatuan saat senja (matahari menjadi background). Gambar Siluet.( CUT ).

Scene 2 : ( medium shoot )

Udin tiduran berbantalkan batu sambil membaca buku. ( CUT ).

ADEGAN 3 : Keramaian Pasar

EXT. Siang

Scene 1 : ( high angle )

Penjual ikan yang menjajakan jualannya. ( CUT ).

Scene 2 : ( longshoot )

Para kuli pasar yang simpang siur mengangkut barang. ( CUT ).

Scene 3 : ( zoom in, in frame, out frame )

Langkah – langkah kaki yang berjalan kesana kemari. Kemudian roda gerobak yang berjalan. CUT.

Scene 4 : ( close up )

Buku tergeletak di jalan pasar.

Scene 5 : ( zoom out, extreme close up, track in )

Tangan Udin tersebut dan memasukkannya ke dalam gerobak. CUT.

Scene 6 : ( knee shot )

Tangan Udin tersebut menyeka keringat di dahinya. CUT.

Scene 7 : ( in frame )

Seorang ibu yang iba datang menghampirinya dan membuka dompetnya lalu memberikannya kepada Addoel. CUT.

Scene 8 : ( medium close up )

Addoel bingung akan mengambil uang tersebut atau tidak. Namun, akhirnya menempelkan uang di dahinya. CUT.

ADEGAN 4 : Lokasi Pembuangan Sampah Yang Kumuh

EXT. SORE

Scene 1 : ( panning )

Suasana TPA yang kumuh dan terlihat beberapa orang sedang mengais – ngais barang ( bukan merupakan Udin Addoel ). CUT.

Scene 2 : ( longshoot )

Addoel membungkuk dan mengais – ngais barang rongsokan dan sampah. CUT.

Scene 3 : ( extreme close up, zoom out )

Kertas tugas di tangan Dedy, bertuliskan “ LAPORAN OBSERVASI PENCEMARAN LINGKUNGAN “. Dedy sedang mengamati sekitarnya. CUT.

Scene 4 : ( Medium Close Up )

Wajah Dedy yang kebingungan sambil menggaruk –garuk kepalanya. CUT.

Scene 5 : ( longshoot, kamera sebagai mata Addoel, moving kamera )

Addoel melihat Dedy yang kebingungan dan menghampirinya. CUT.

Scene 6 : ( Close up, percakapan )

Addoel : “ Tugas Sekolah ya mas? “

Dedy : “ Iya. “

Addoel : “ Oh. “ ( lalu pergi ). CUT.

Scene 7 : ( medium shoot )

Addoel dan Udin sedang istirahat siang diantara tumpukan sampah. CUT.

Scene 8 : ( close up )

Wajah Udin memandang Dedy. CUT.

Scene 9 : ( longshoot, kamera sebagai mata Udin )

Dedy sedang duduk, sibuk mengerjakan papernya. CUT.

Scene 10 : ( medium close up)

Setelah agak lama duduk dedy melihat jam di tangannya. CUT.

Scene 11 : (track in)

Dedy pergi tanpa membawa tasnya.

Scene 12 : ( medium close up)

Udin yang heran melihat Dedy yang lupa membawa tasnya.

Scene 13 : ( full shot )

Udin berdiri dan berlari mengambil tas itu

Scene 14 : ( full shot )

Udin yang mengambil tas dan berusaha mengejar, tapi tak terkejar.

Scene 15 : ( medium close up )

Wajah Udin yang bingung

Scene 16 : ( knee shot )

Udin yang sedang kebingungan dengan background Addoel yang menghampiri Udin.

Scene 17 : ( medium shot )

Wajah Addoel

“ apaan tuh”

Scene 18 : ( close up )

Adooel yang merebut tas dari tangan Udin

Scene 19 : ( medium close up )

Addoel yang mengubrak-abrik isi tas

Scene 20 : ( close up )

Sejumlah kertas ulangan dengan nilai yang jelek.

Scene 21 : ( in frame )

Tangan udin yang mengambil kertas ulangan, terpampang jelas nilainya yang jelek.

Scene 22 : ( Medium close up )

Udin berkata :

“Jangan, itu bukan milik kita kak!, kita kembalikan saja”

ADEGAN 5 : Dijalan menuju penimbangan barang

EXT. Sore

Scene 1 : ( low angel )

Gerobak yang ditarik Udin di depannya, dan addoel di belakangnya.

Scene 2 : ( full shot )

Mereka berhenti di depan tempat penimbanga jalan

Scene 3 :( close up )

Barang yang ditimbang

Scene 4 : ( close up )

Tangan udin yang menerima uang hasil timbangan.

ADEGAN 6 : Pulang sekolah

EXT. Siang

Scene 1 : ( close up )

Roda gerobak, kaki udin, dan addoel yang sedang berjalan.

Scene 2 : ( full shot )

Mereka berhenti di depan sekolah Dedy.

Scene 3 : ( close up )

Langkah-langkah kaki pelajar yang berjalan keluar sekolah.

Scene 4 : ( medium close up )

Wajah Dedy, berjalan keluar sekolah di tengah-tengah keramaian siswa.

Scene 5 : ( medium close up )

Wajah udin dan addoel yang kaget melihat Dedy yang sedang berjalan.

Scene 6 : ( knee shot )

Udin dan addoel yang bangun dan beranjak untuk menghampiri Dedy, dengan background siswa-siswa yang membuang sampah di gerobak mereka.

Scene 7 : ( medium shot )

Dedy yang kaget melihat udin dan adooel, dan berniat untuk menghampirinya, tapi terhenti karena sebuah tangan perempuan yang juga pacarnya yang menahannya.

Scene 8 : ( medium shot, two shot )

Dedy yang menoleh ke wajah pacarnya.

Scene 9 : ( close up )

Tangan dedy yang menepis tangan pacarnya.

Scene 10 : ( medium close up )

Dedy berjalan menjauhi pacarnya, dengan background pacarnya yang marah.

Scene 11 : ( knee shot )

Dedy yang menghampiri udin dan addoel.

Scene 12 : ( close up )

Tangan udin yang mengembalikan tas milik Dedy.

Scene 13 : ( medium close up )

Dedy berterimakasih pada mereka.

“Makasih ya”.

Scene 14 : ( medium close up )

Wajah udin dan adooel.

“Sama-sama”

Scene 15 : ( full shot )

Tampak ketiganya, udin dan addoel meninggalkannya dan beranjak pergi.

ADEGAN 7 : Udin dan addoel di malam hari.

EXT. Malam

Scene 1 : ( long shot )

Terlihat udin dan addoel yang sedang membaca buku dengan background Labang Mesem.

Scene 2 : ( medium close up )

Udin sambil tiduran sedang membaca buku biologi.

NARASI GAMBAR

Pencemara air disebabkan beberapa jenis bahan pencemar, antara lain ; pembuangan limbah industri sisa insektisida. Buangan industri seperti timbel, raksa, seng, dapat membuat air terakumulasi dan bersifat racun.

Scene 3 : ( medium close up )

Addoel yang sedang

ADEGAN 8 :Menjelang pagi

EXT.PAGI (SUBUH)

Scene 1 : ( close up )

Kubah mesjid

Scene 2 : ( long shot )

Orang-orang yang sedang memasuki mesjid.

Scene 3 : ( full shot )

Udin dan addoel yang berhenti di depan mesjid.

Scene 4 : ( close up )

Udin dan addoel yang sedang wudhu’.

Scene 5 ; ( low angle )

Udin yang sedang shalat, salam akhir.

ADEGAN 9 : di jalan raya.

EXT. Pagi

Scene 1 : ( full shot )

Addoel dan udin mendorong grobaknya menuju pasar.

Scene 2 : ( long shot }

Dari arah berlawan Dedy mengendarai sepeda motor.

Scene 3 : ( medium shot )

Dedy melihat addoel dan udin, dan memanggil mereka.

Scene 4 : ( medium shot )

Addoel dan udin melanjutkan perjalanannya karena tak mendengar panggilan Dedy, dengan background dedy yang sedang melmbai-lambaikan tangannya.

Scene 5 : ( full shot )

Mereka berpapasan.

Scene 6 : ( full shot )

Dedy yang tengah mengendarai kendaraannya memutar arahnya dan mengejar mereka.

Scene 7 : ( long shot )

Dedy menghampiri dan menawarkan bantuannya.

“Biar saya Bantu ke pasar”

Scene 8 : ( medium shot )

Wajah udin dan addoel.

“Sudahlah, kau berangkat ke sekolah saja”, jawab udin.

Scene 9 : ( medium shot )

Wajah dedy.

“Baiklah, kita bertemu nanti malam di alun-alun”, jawab Dedy.

Scene 10 : ( full shot )

“Ya, hati-hati”, Jawab Addoel.

Scene 11 : ( long shot )

Dedy pergi, udin dan addooel-pun pergi melanjutkan perjlanan.

ADEGAN 10 : Di alun-alun

EXT. Malam hari

Scene 1 : ( long shot )

Suasana keramaian kota.

Scene 2 : ( full shot )

Ketiganya tampak duduk dan berbincang-bincang.

Scene 3 : ( medium close up )

Wajah Dedy yang bingung dan bimbang.

“Besok aku akan mengikuti olimpiade biologi, aku ragu bisa menang.

Scene 4 : ( medium close up )

Wajah addoel.

Kamu jangan pesimis dulu, yang terpenting usaha dulu dan jangan lupa doa, yakinlah kau bias menang”

Scene 5 : ( Medium close up )

Wajah udin.

“Sekarang kita belajar yuk..!!”

Scene 6 : ( full shot )

Mereka bertiga sedang sibuk belajar.

ADEGAN 11 : Suasana olimpiade biologi

INT. pagi

Scene 1 : ( low angle )

Dedy yang mengangkat piala.

ADEGAN 12 :Mencari Udin dan Addoel

EXT.SORE

Scene 1 :(medium long shot,track in)

Dedi berlari di pasar dan terlihat kebingungan, sempat berhenti dan melanjutkan mencari udindan addoel.

Scene 2 :(in frame)

Dedy berhenti dan kecapean (membungkuk) di depan tempat pembuangan sampah. CUT.

ADEGAN 13 : menemukan gerobak di depan kantor pol PP

EXT. SORE

Scene 1 :(Fade out)

dedy terus berlari dan melihat sebuah gerobak di depan kantor pol PP dan menghampirinya. CUT.

Scene 2 :(ZO-ZI)

Tangan dedy menaruh piala tersebut ke dalam gerobak dan ternyata di dalam gerobak tersebut banyak tumpukan buku pelajaran. CUT.

Narasi gambar :

“piala ini tidak pantas untuk saya, tetapi kalianlah yang pantas mendapatkannya. CUT.

Scene 3 :(BCU)

Tangan dedy merobek kertas “WAJIB BELAJAR SEMBILAN TAHUN” sedangkan tangan kiri dedy mengambil bendera merah putih tersebut. CUT.

SEKIAN

Selasa, September 9

Film Indie "GEROBAK"

Beranjak dari depan gedung Dewan, sebuah gerobak yang bertempelkan tulisan "Wajib Belajar 9 Tahun" dan sebuah bendera merah putih ukuran kecil, yang ia dapatkan dari tempat pembuangan sampah. Udin (Pandu) menarik gerobaknya dan Addoel tiduran digerobaknya dengan membaca buku menuju TPA. setiap hari mereka lakoni kehidupan itu dengan mengais sampah dan membaca buku yang mereka temukan di tempat sampah. Dedy (hendry) mendapat tugas untuk mengadakan penelitian tentang pengaruh iklim global. Dedy bertemu dengan dua anak gerobak tersebut dan mereka memulai kebutuhan persahabatan. Mereka sering belajar bersama dan suatu hari dedy akan mengikuti lomba olympiade biologi yang di salah satu stasiun TV lokal. Dedy mendapat piala, tapi dia berpikir bahwa dirinya tidak layak untuk mendapatkan piala tersebut melainkan ke dua anak gerobak tersebut yang layak mendapatkannya. Dedy mencari dua anak gerobak tersebut kesudut kota yang biasanya mereka tempati, namun dedy mendapatkan gerobak tanpa pemiliknya sudah berada di kantor SATPOL PP. ya tempat penggusuran buat kaum yang dianggap sebagai sampah kota. ia geletakkan piala di gerobak begitu saja dengan dialog "Piala ini tak pantas untuk aku terima, tetapi kalian berdualah yang pantas untuk mendapatkannya dan kalianlah guru yang terbaik untuk aku". film ditutup dengan adegan udin dan addul tetap belajar dengan background matahari terbenam yang diilustrasi dengan musik iwan fals "oemar bakri".
Garapan film Indie kali ini di sutradarai oleh Agus Suharjoko dengan dibantu oleh Sineas Smansa. Dengan durasi 15 menit tema yang diangkat untuk penyadaran wajib belajar 9 tahun terasa disana-sini beberapa kritikan yang dapat dikemas kedalam bahasa gambar yang menarik. Dimulainya adegan di depan gedung dewan, sutradara ingin mengatakan bahwa segala keputusan yang dihasilkan di dalam gedung tersebut agaknya tidak memihak kepada dunia pendidikan. ini yang sebenarnya ingin dibidik oleh sutradara kali ini. Dunia pendidikan juga banyak tidak menyentuh persoalan anak pinggiran yang sebenarnya mengharapkan pendidikan formal namun karena persoalan biaya, mereka banyak berpihak pada bagaimana mendapatkan kehidupan ekonomi yang layak untuk bisa melanjutkan hidupnya. nah potret yang demikian yang dimunculkan dalam film GEROBAK karya Agus Suharjoko. pertanyaan yang muncul apakah Wajib belajar 9 tahun, sudah terlaksana dengan baik atau hanya sebuh proyek yang ditawarkan melalu target perhitungan untung dan rugi? Tetapi jawaban tersebut tidaklah menjadi sebuah harapan baru, namun betapa luar biasanya saat kita semua bisa memberikan yang terbaik buat dunia pendidikan.

Rabu, Juli 9

TETUKO : MEMADUKAN UNSUR GARAP TEATER MODERN – TRADISI

Kesenian tradisional Topeng Dhalang yang berkembang saat ini masih mampu mewarnai perkembangan kesenian tradisional di wilayah kabupaten Sumenep. Seni tradisional ini masih menjadi ikon pertunjukan yang berkembang di daerah pegaraman diujung timur pulau Madura. Namun perkembangannya saat ini sudah mulai terpinggirkan dengan pertunjukan-pertunjukan hiburan seperti, Musik Dangdut dan hiburan televisi. Perkembangan awal keberadaan teater tradisional topeng dhalang memang sangat dimintai dan pementasannyapun menyebar bukan hanya pada wilayah pesisiran namun juga di kota kabupaten. Ia berkembang menjadi bagian dari upacara ritual (siklus kehidupan) dan juga untuk media Rokat atau upacara pembersihan dari keadaan malapetaka atau keburukan di suatu tempat. Rokat Tasek, rokat buju’, rokat Pandhaba atau rokat untuk mengusir atmosfer jahat. Kepemilikan masyarakat Madura atau khususnya di Sumenep kepada pertunjukan topeng dhalang bukan hanya gebyar pementasannya namun juga isi dari cerita yang dibawakan mengandung filosofi-filosofi kehidupan yang berkembang di lingkungan masyarakat tradisional.

Dengan menggunakan media seorang dalang, para pemain semuanya mengenakan topeng sebagai media ekspresi tokoh-tokoh yang dibawakan. Tokoh-tokoh tersebut banyak mengambil dari penokohan cerita Ramayana maupun Mahabarata. Kedua cerita tersebut diolah kembali oleh seorang dalang disesuaikan dengan cerita rakyat yang berkembang di wilayah Madura, dan ini dapat dikatakan bahwa pertunjukan topeng dhalang bersifat luwes dan fleksible. Pada kesempatan proses produksi, komunitas Teater Smansa dengan sutradara Agus Suharjoko mencoba untuk mengkolaborasikan antara teater tradisional Topeng Dhalang dengan konsep teater modern. Dengan mengambil naskah Tetuko (Gatot Kaca kecil) saya mencoba mencari dan menemukan peluang-peluang apa saja yang sekiranya dapat dieksplorasi dari teater tradisional topeng dhalang ke dalam wilayah garap teater modern. Penggunaan topeng sebagai media karakter tokoh dan perubahan bentuk topeng dapat menjadi efektif untuk bahan eksplorasi karakter. Gerak tubuh pemain tidak lagi bisa leluasa seperti karakter teater modern namun diarahkan ke style tokoh stereotif tokoh wayang. Ensable musik banyak memanfaatkan musik gamelan sebagai garapan untuk pendukung suasana dan pengiring cerita atau adegan. Namun penggunaan bahasa Madura sebagai media komunikasi pada pertunjukan topeng dhalang diganti dengan menggunakan media bahasa Indonesia.

Pencarian hal demikian di dalam proses produksi sangat menguras energi karena masing-masing pemain diharuskan untuk dapatnya melihat dan memahami karakter tokoh pada pertunjukan topeng dhalang dan juga dilakukan pemahaman konsep seni tradisional dengan garapan teater modern. Kami melakukan persiapan kurang lebih empat bulan dan bersama-sama melakukan eksplorasi dari kemungkinan-kemungkinan untuk mengemas sebuah bentuk yang baru dengan pendekatan budaya lokal. Ini sangatlah menarik karena topeng dhalang sebagai bentuk kesenian tradisional mulai dijauhi oleh generasi muda khusunya para pelajar. Namun kami mencoba mengeksplorasi kembali dan yang diharapkan semoga dalam bentuk kemasan kekinian akan mendekatkan kembali teater tradisional ke wilayah pilihan hiburan para pelajar. Dan ternyata apa yang ditawarkan oleh Komunitas Teater Smansa dengan garapan teater “TETUKO” kewilayah garap teater modern dengan nuansa tradisi mendapatkan hasil saat mengikuti Festival Fragmen Budi Pekerti Pelajar se Jawa Timur 2007 di Batu – Malang yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur meraih gelar 5 Penyaji Terbaik.

Pementasan ini didukung oleh tim produksi :
Sutradara : Agus Suharjoko
Penata Musik : Akhmad Darus
Penata Artistik : Syaiful Amri
Pemain : Eka Fitria Sari, Fitri Indah Kadaryanti, Ipoeng, Julie, Dedy Fauzan, Akhmad Fauzan, Riena, Sinta Rustria, Jaka Kusuma, Ali yiek (by. Agus teater)

Minggu, Juli 6

AROKAT MEMPE : PENGGALIAN BUDAYA YANG TERHIMPIT

Betapa derasnya budaya global menghempaskan nilai-nilai tradisi yang tumbuh dan berkembang di lingkungan budaya masyarakat masa kini. Ia bagaikan virus yang menyerang bagian-bagian terpenting tubuh kebudayaan kita. Sedikit demi sedikit budaya lokal terpinggirkan hingga tidak dapat dilihat kembali saat ini. Awalnya budaya lokal tumbuh dan berkembang ditengah-tengah lingkungan masyarakat sebagai aturan, norma dan nilai yang sangat dimilikinya. Namun apa yang terjadi saat ini, kita hanya bisa mendengarkan cerita dari kakek dan nenek kita yang sudah enggan lagi bercerita kepada kita, kalau tidak kita tanya. Nilai budaya saat ini sungguh terbuaikan oleh pengaruh wacana yang ada di ruang informasi dan komunikasi tekhnologi. Mereka beragam dan kita suka-suka mau memilih arus informasi yang mana saja susuai dengan selera kita. Mampukah kita menggali kembali nilai-nilai tradisi tersebut untuk diwacanakan kembali pada era globalisasi saat ini?

Nah dari fenomena semacam ini, penulis selaku sutradara AROKAT MEMPE merasa perlu melakukan penggalian nilai-nilai tradisi sebagai kearifan lokal untuk diperkenalkan kembali kepada kaum muda khususnya pelajar di SMA Negeri 1 Sumenep dan masyarakat Madura agar mereka masih mau mengenal kembali kebudayaan kita. Memang rasanya sangat sulit sekali bagaimana mengembalikan wacana penggalian budaya lokal kepada pelajar sementara hiburan dan arus informasi menganggap yang tradisi adalah kuno dan ketinggalan jaman. Namun apakah dengan persepsi semacam ini yang diwacanakan kaum muda langsung kita tidak mau merespon budaya lokal? Nah untuk itu pada garapan karya seni pertunjukan kali ini, saya mencoba memberikan penawaran untuk dapatnya hasil penggalian budaya lokal tersebut mampu disajikan kembali dan diminati oleh kaum muda yang sudah meninggalkan budaya lokal mereka sendiri dan yang lebih akrab dengan tontonan goyang dangdut dan gosip seputar seleb. Lewat konsep seni pertunjukan dengan kemasan kekinian ternyata kita dapat memperkenalkan kembali nilai-nilai tradisi yang sudah terlupakan itu kepada wacana kekinian. Hal ini dapat dibuktikan melalui para pemain yang mulai mengakrabi kesenian tradisional sebagai ide garap seni pertunjukan AROKAT MEMPE.

Kakek dan nenek kita waktu dulu saat mereka tidur dan bermimpi yang mengganjal (mimpi buruk) maka beliau akan melakukan rokat mempe, mereka mempersiapkan jagung sangngar (sangray) dan diadakan pagelaran fragmen topeng dhalang yang membawakan cerita Batara kala dan cerita lainnya sesuai permintaan tuan rumah. Dengan membersihkan tempat di sekitar rumah yang dilakukan oleh dalang dan membersihkan jiwa yang bermimpi maka mulailah adegan Arokat Mempe. Pada kali ini sutradara mengambil ide garap kearifan lokal tersebut dan memberikan bentuk kemasan kolaborasi dengan unsur tari, teater tradisi dan modern serta media wayang kulit sebagai unsur media garapnya. Penerapan konsep pada media wayang bukan lagi bayang-bayang di siluet kain putih dengan disinari cahaya blencong (cahaya obor) namun wayang diperagakan melalui pemain dan digerakkan oleh peraga. Memasukkan unsur-unsur tarian ke dalam garapan juga disesuaikan dengan tema cerita. Namun tak lepas juga ada beberapa tokoh yang diperagakan dengan menggunakan unsur pertunjukan topeng dhalang.
Dengan memanfaatkan durasi minimal hanya sekitar 20 menit pertunjukan Arokat Mempe terasa mengena pada penonton dan pengamat seni pertunjukan saat diikut sertakan ke festival Seni Pertunjukan se Jawa Timur di Taman Krida Budaya Malang 2008. hasil kolaborasi seni tradisi dan modern oleh Lembaga Tanah Kapur dan komunitas teater SMA Negeri 1 Sumenep ini menghasilkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur. Mendapatkan penghargaan 5 Penyaji Terbaik non-ranking, penata artistik terpilih dan Sutrdara terbaik karya seni pertunjukan.
Tim Produksi :
Sutradara : Agus Suharjoko,S.Sn.
Penata Musik : Akhmad Draus
Penata Artistik : Syaiful Amri
Pemain : Resi Eka Yuliana, Eka Fitria Sari, Fitri Indah Kadaryanti, Ipoeng, Nanda, Nency, Shinta, Putri, Sari, Fauzan.(by. agus teater)

Rabu, Juli 2

ALALABANG : MEREVITALISASI BUDAYA MADURA

Kesenian tradisional masih berkembang subur diwilayah pinggiran atau sebut saja pedesaan sebagai salah satu media hiburan masyarakat pendukungnya. Ia tetap bergerak walaupun digempur kanan kiri oleh budaya urban atau lebih ngetrendnya budaya global. Ia masuk dan merasuki wilayah budaya lokal melalui media yang bernama tekhnologi, baik itu melalu pesawat televisi anda ataupun VCD suka-suka anda dan jenis-jenis kesenian lainnya. Memang kebudayaan itu bergerak dan berkembang ke wilayah manapun saja melintasi ruang dan waktu. Sudah banyak kita temui jenis hiburan rakyat yang sudah bergeser ke wilayah budaya baru. Generasi muda sudah tidak mengenal lagi bagaimana fungsi kesenian tradisional, dan mungkin malah enggan untuk mau melihat kesenian tradisional yang semalam suntuk dipagelarkan dilapangan terbuka. Entah alasan takut masuk angin atau malah dilarang oleh orang tuanya. Sebenarnya ruang publik dengan pagelaran kesenian tradisional mengandung wacana nilai-nilai kearifan lokal baik yang ditemukan di dalam pementasan kesenian tradisional ataupun komunikasi silahturahmi antar penonton. Tetapi yang kita temukan sekarang ini adalah peristiwa tawuran ditengah-tengah lantunan musik dangdut yang sarat dengan goyang maut si penyanyi.

Seni tradisonal yang berkembang dan masih hidup saat ini salah satunya adalah Topeng dhalang. Cerita yang disuguhkan masih seputar cerita Ramayana, Mahabarata dan Panji. Penggunaan bahasa Madura baik tingkatan bahasa Halus, sedang dan kasar masih menjadi bahasa komunikasi dalang. Topeng Dhalang ini masih menajdi bagian tak terpisahkan didalam acara siklus kehidupan manusia (Rokat, Perkawinan dan hiburan). Namun kalau kita melihat tingkatan usia penontonnya lebih banyak kaum tua yang memadati lapangan tempat topeng dhalang dipagelarkan. Dengan kondisi seperti inilah, Agus Suharjoko, selaku sutradara ALALABANG mencoba memberikan penawaran baru untuk kemasan seni tradisional dengan kemasan karya kekinian dengan istilah Seni Pertunjukan. Mengambil elemen nilai tradisional dan mengkolaborasikan beberapa jenis seni tradisional seperti; Macapat, Tetembhangan, Wayang rumput (wayang Pappa = pelepah daun pisang), tari kontemporer, papareghan dan teater modern, menjadi satu paket dengan durasi sekitar 30 menit.

Dalang dengan media wayang pappa dengan diiringi arak-arakan saronen dan peraga topeng berjalan dari arah penonton menuju panggung sebagai simbol Buju’ (kuburan keramat seorang tokoh) mengawali pementasan ALALABANG. Dalang mulai menceritakan seorang tokoh yang bernama Kyae Barumbung mempunyai santri bukan manusia tapi Mothak Potte (Kera Putih), yang disuruh menjaga perkebunan timun (di daerah Rubaru kabupaten Sumenep memang dikenal sentra perkebunan mentimun). Mothak potte itu menjaga perkebunan mentimun milik kyai Barumbung karena setiap malam banyak mentimun yang dicuri. Dengan nasehat sang kyai dan kepandaian sang mothak, mentimun itu dicat dengan kapur sehingga dimalam hari mentimun itu memantulkan cahaya rembulan sehingga selalu kelihatan oleh sang mothak. Dan Kyai barumbung pun memuji kesetiaan dan kecerdasan mothak sehingga semua ilmu yang dimiliki oleh sang Kyai diturunkan kepada mothak potte, dan suatu hari mothak tersebut menjelma menjadi Hanoman.

Dimulailah pementasan fragmen Cerita Ramayana dengan topeng dhalang sebagai salah satu acara rangkaian rokat bhuju’ tersebut dengan cerita hanoman yang diutus oleh Rama untuk mengambil Dewi Shinta yang direbut oleh Rahwana. Dan dibantu oleh oleh pasukan kera akhirnya dewi Sinta dapat dikembalikan ke pangkuan Rama oleh Hanoman. Diakhir pertunjukan semua peraga berarak-arakan kembali dengan diiringi musik saronen keluar panggung untuk “ngalalabang” lagi. Pertunjukan ALALABANG menggunakan konsep pertunjukan pada saat dulu dimana seni tradisional mengamen dari pintu kepintu atau dari bhuju ke bhuju’ sebagai sarana upacara ritual. Namun kali ini dikemas ke wilayah panggung sebagai seni pertunjukan.

ALALABANG 1 karya Agus Suharjoko ini telah mengikuti beberapa ivent dan sebagai penyaji terbaik dari Festival seni Pertunjukan se Jawa Timur 2006 di Malang, Festival seni tradisi lisan se Jawa di Jogyakarta 2007, festival seni tradisi lisan se Asia di Taman Ismail Marzuki 2007, apresiasi pertunjukan tradisi lisan bagi pelajar di SMU Muhammadiyah Jakarta dan sebagai duta seni propinsi Jawa Timur pada Pesta Kesenian Bali 2007 di Art Centre Denpasar-Bali. Dengan didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Sumenep, Lembaga Tanah Kapur dan Komunitas Teater SMANSA.
Tim Produksi :
Sutradar : Agus Suharjoko, S.Sn.
Penata Musik : Akhmad Darus
Penata Artistik : Agus Suharjoko, S.Sn.
Pemain : Resi Eka Yuliana, Eka Fitria Sari, Fitri Indah Kadaryanti, Beladona, Nency Puspita Sari, El Fatmala dan Rukun Pewaras(by. agus teater)